Detik jam, menunjukan waktu terus bergerak. Di tengah pandemi, banyak orang yang mengalami krisis identitas dan budaya. Seolah badai, pandemi ini terus menerjang segala aspek, mulai dari ekonomi, kesehatan, budaya hingga karakter seseorang. Jika anda tahu, kejadian pandemi tidak hanya kali ini. Ada pandemi tersembunyi, yang sudah terjadi 1 abad terakhir, yang sampai sekarang belum ada vaksinya. Itu adalah, HIV (Human Immunodeficiency Virus) pathogen jenis retrovirus penyebab penyakit AIDS. Penyakit yang sudah ada bahkan sebelum jaman kolonial. Wabah yang secara diam – diam, menjangkiti seluruh dunia. Silent killer yang bahkan bisa ditularkan ke keturunan. Wabah yang sangat sulit ditemukan vaksinya karena virus ini gampang bermutasi. Hanya ada obat untuk mengurangi efek kerusakan akibat virus. Penyakit yang menggerogoti seseorang dengan perlahan. Membunuh mereka dengan sadisnya, bahkan dengan mudah menular ke orang – orang yang mereka sayangi, terutama istri/ suami dan anak, melalui kontak darah. Sebagai penulis, aku tahu betul mengenai penyakit ini. Karena paman, dan sahabat kecilku, terbunuh oleh penyakit ini. Aku begitu terpukul, mengetahui paman yang sangat aku sayangi dan banggakan, meninggal karena virus ini. Sampai sekarang aku belum mengetahui, dari mana pamanku mendapatkan virus ini. Untungnya, istri dan kedua anaknya dinyatakan negatif virus ini. Tidak hanya pamanku, sahabat kecilku di kampung juga meninggal karena penyakit yang sama. Namun yang aku tahu, mereka berdua sama – sama bekerja di bidang pariwisata. Bidang yang berbungan dengan dunia luar, lokasi urban dengan dinamika pergerakan penduduk yang tinggi, yang tentunya mobilisasi virus juga tinggi. Sama seperti kasus pamanku, dimana dan kapan sahabatku mendapatkan virus itu, aku tidak tahu. Gejala pneumonia adalah gejala tahap akhir AIDS, merupakan penyakit yang merenggut mereka berdua. Dan kini, banyak orang – orang yang heboh akan pandemi 2020, dimana pneumonia-lah yang menjadi penyebab utama kematian mereka. Bukankah ini sedikit ganjil.
Bukankah ini menunjukan, kematian akibat pneumonia
prevalensinya tinggi? Tapi tunggu ,bukankah sebagian besar kasus pneumonia pada
orang normal cukup mudah disembukan? Nah, mengapa di kasus AIDS dan pandemi 2020
ini bisa sesulit itu? Bahkan bisa menimbulkan kematian pada pasien. Kata kuncinya ada di
KEKEBALAN TUBUH
Virus HIV/AIDS menyerang kekebalan tubuh pasien,
menekan kekebalan tubuh mereka serendah mungkin. Hingga saat ada invasi virus
atau bakteri patogen lain ke dalam tubuh pasien, mereka akan dengan mudahnya tumbang.
Terlebih oleh bakteri/ virus pneumonia yang ada di mana
saja. Di pegangan pintu, di kursi, di tanah, di makanan, droplet orang bersin,
di hp dan gadget yang kita pegang. Jika pada pandemi 2020, kebanyakan orang
meninggal karena pneumonia. Bukankah virus ini berarti juga menyerang kekebalan
tubuh pasien? Bukankah ini mirip dengan HIV?

Komentar
Posting Komentar